Kamis, 07 April 2011

NIKO

                                              NIKO


Banyak kisah cinta yang kulihat dan kudengar,tapi sayang tak pernah kualami sendiri.Banyak juga orang yang heran dan menganggapku aneh.ko bisa sih,gak pernah jatuh cintrong apa ya,atau belum pernah pacaran ya,begitu komentar teman –temanku.dan seperti biasanya,aku cuek saja tiap kali mendengar celotehan mereka.memang diantara anak kelas III IPA 2,akulah mungkin yang dianggap paling aneh.Ah,biarin aja.aku sama sekali gak peduli.

Aneh,kenapa sih orang selalu menganggap pacaran itu penting.seakan-akan kalau sudah pacaran bisa dianggap hebat gitu.apa hebatnya sih,makhluk yang bernama cowok itu.padahal mereka itukan Cuma mau enaknya doang.lihat aja si Andre,cowok paling cute disekolahku,yang jadi bintang basket dan paling tajir.banyak lho,cewek yang pingin jadi pacarnya.padahal menurutku sih,dia biasa-biasa aja tuh.lha wong sukanya Cuma gonta-ganti pacar doang.baru beberapa hari jalan sama SI Tika,eh,besoknya ku lihat sudah gandengan sama cewek lain dan masukin cewek itu ke dalam mobilnya.ku piker buat apa sih,mereka berbuat begitu?Pa untungnya,apakah dengan memacari banyak cewek begitu bisa dikatakan hebat?Ga lah yaww…..

Kadangkala aku merasa iri juga,saat melihat teman-temanku berdua-duaan.kayak si rini sama si raka tuh,yang tiap hari lengket terus kayak perangko.kemana-mana slalu bareng,ke kantin juga bareng.Wuih,kayaknya yang lain itu dianggap gak ada.AH,enak aja,emangnya aku di anggap apaan.atau kaya si Ayu sama si Tendy yang kebetulan jadi temen satu kelasku.mentang-mentang sekelas sampai-sampai duduk pun harus selalu sebangku.ko mau-maunya sih.apa nggak bosan ya?

Kupikir lebih baik aku nggak pacaran dulu deh.nanti makan ati mulu,kayak si Mira tuh,yang brokenheart gara-gara di putusin sama si Dika.trus,nangis-nangis di kelas lagi.pokoknya bikin pusing,deh.meskipun tak sedikit juga kisah-kisah manis seputar cinta yang ku tahu,tapi entahlah,semua itu tak membuat hatiku bergeming.sepertinya  malah lebih banyak ruginya.apalagi kalau ku ingat kisah si Andre sama si Roy yang berantem Cuma gara- gara rebutin pacar,sampai-sampai di siding sama guru-guru.bikin malu saja.

Dan mungkin cerita cinta seperti itulah,yang membuat hatiku makin kekeuh untuk tak mau pacaran dulu,sampai-sampai kalau ada yang mau deketin ,aku selalu pasang tampang galak and sangar abis.lebih baik aku belajar aja dulu dan nyenengin hati orang tua,’tul gak!!!Namun kala virus merah jambu itu datang,tak kuasa kutahan serangannya yang begitu dahsyat.kokohny benteng pertahanan yang selama ini ku jaga,runtuh seketika,saat Niko datang membawa secercah cahaya cinta itu ke dalam hatiku.awalnya kami berjumpa secara tak sengaja.ketika itu hujan turun dengan deras,bel pulang sekolah juga sudah berdentang berkali-kali.

Segera ku langkahkan kaki ke luar kelas,dengan lesu ku pandangi air hujan yang terus mengguyur tiada henti,Yah kenapa sih aku bisa lupa bawa paying?padahal aku kan sudah tau kalau sedang musin hujan.entah sudah berapa lama aku menunggu,hingga tak terasa hujan pun berhenti.segera kulangkahkan kakiku ke luar dari gerbang sekolah.Ah sial,jalan raya yang ada di depanku terendam air hingga beberapa senti.sepatuku jadi basah,Deh.jadi terpaksa harus ku copot.baru saja ku lepas sepatu sebelah kiriku,sebuah suara mengagetkanku dari belakang.

“Wah,sepertinya aku harus buka sepatu juga nih,”ujar sosok itu.spontan saja,aku segera menoleh kea rah sumber suara.Ah,itu si Niko,ku lihat ia tersenyum  manis kepadaku.sejak saat itulah,wajah putih dan senyum manisnya it uterus membayang di dalam benakku.sungguh tak ku sangka kalau aku akan merasakan getaran-getaran aneh yang tak ku tahu sebelumnya,entah apa itu.Mulanya aku tak peduli dan tetap cuek seperti biasanya.aku juga tak terlalu memperhatikannya,walaupun kami sering berpapasan,karena kelasnya bersebelahan dengan kelasku,hingga kmudian,kami bertemu kembali saat sedang mengurus berkas-berkas pendaftaran PMDK di ruang guru.ketika itu,aku sedang berkonsultasi dengan Bu Rina,saat ku lihat ia datang menghampiri kami.ternyata ia juga mendaftar PMDK pada PTN yang sama denganku.hanya saja mengambil jurusan yang berbeda,kamipun kemudian sama-sama berkonsultasi kepada Bu Rina.Oleh beliau,kami di sarankan untuk secepatnya melengkapi  berkas-berkas pendaftaran,akhirnya kami sepakat untuk menyanggupinya.

Pagi itu,aku ingin menyerahkan berkas-berkas pendaftaran PMDK pada Bu Rina,baru saja kulangkahkan kakiku menuju ke ruang guru,si Niko Nampak tergopoh-gopoh menghampiriku”Eh,kamu sudah fotocopi rapot belum?”tanyanya dengan suara naik turun yang segera ku jawab dengan gelengan kepala.”kalau begitu,aku nitip sekalian foto kopiin ya,nih uangnya.sory,aku harus balik lagi nih,soalnya surat pernyataanku tertinggal di rumah,”lanjutnya yang lagi-lagi Cuma bisa ku jawab dengan bahasa isyarat.segera kuanggukkan kepala saat ia menyerahkan buku rapotnya.dan tak lupa ia memberikan senyum termanisnya padaku,Ah.getaran-getaran yang dulu pernah kurasakan itu kini datang lagi melanda hatiku.

                                                ***
Setahun sudah berlalu kami pun tak pernah berjumpa lagi.dari yang ku dengar,ia sudah di terima PMDK sebenarnya aku juga di terima PMDK di PTN yang sama dengannya,tapi sayang tak jadi ku ambil.orang tuaku keberatan dengan biaya masuk yang di kenakan .jadi aku tak bakal ketemu lagi dengan si NIko.tapi aku masih menyimpan angan-angan suatu saat kami bisa ketemu kembali.aku hanya ingin berterima kasih padanya,karena sudah mengisi sudut kecil di ruang hatiku dengan senyum manisnya itu hingga kini tiap kali hujan berehenti,dan air menggenang di halaman rumahku,aku selalu teringat padanya.Ah,Niko…masih ingatkah kau padaku.

                                                ***


















Segitiga Beda Sisi

Segitiga Beda Sisi


PAGI-PAGI sekali,saat gue nyabu nyarap bubur ayam di depan sekolah,Zia menghampiriku.
Mie,gue boleh nanya nggak?”tanyanya ke gue sehabis pesan gado-gado.”Gue mau nanyain tentang seseorang sama lo,”cerocos Zia tak beri kesempatan.”Setau gue,lo kan deket sama Marcell,lo pasti tahu dong semua hal-hal yang berkaitan dengan dia.hobinya,tempat tongkrongannya,atau tipe ceweknya.Bantuin gue ya,Mie!”Zia memohon.

“Ooo, jadi lo mau ngegebet si marcell neh…ciehhh”
“Bener kan lo tau tentang dia?”
Akhirnya gue bilangin juga kalo Marcell itu jago basket dan bisa main biola.”Berarti bisa nyanyi juga cdong!”celetuk Zia penuh semangat.
“Nyantai aja kale.sorry nih,untuk yang satu ini,dengan sangat menyesal gue harus bilang :suaranya tuh fals!”

“Trus,tipe ceweknya gimana?”Zia tak peduli.”Dia suka cewek yang enak diajak ngobrol,pengertian,nggak posesif-mau tau semua yang dia lakuin.pokoknya cewek itu model easy going.kalo Marcell pengen curhat,ya dia dengerin,tapi kalo nggak,ya diemin aja,”jawab gue panjang lebar.

“Menurut lo,gue termasuk tipe nya nggak?”Tanya Zia pantang menyerah,sekalipun kali ini mendadak tampak lesu.”kalo lo mau dia suka sama lo,bukan berarti lo harus jadi tipe cewek kayak yang ada dipikirannya.be your self aja kale…”
                                   
                                    ***
SUATU siang di kelas.
“Mar,lo ikutan servey ke anyer nggak?”Tanya gue sambil mencondongkan kepala ke tempat duduk Marcell.”Emangnya siapa aja yang bakalan ikut?”Marcell balik bertanya.
“lo ini gimana sih?ditanya kok malah balik bertanya .Ya,paling pengurus inti sama seksi humas,”jawab gue.”Berangkat jam berapa?”Tanya Marcell dengan tatapan matanya yang bikin gue salting.

Nggak tau sejak kapan Marcell terasa karib dengan gue.dia sering menceritakan segala kekhawatirannya,kebahagiaannya,dan segala kebimbangannya pada gue.gue juga nggak tau,sejak kapan gue mulai menunggu ceritanya,keluh kesah,dan tentunya tatapan matanya yang terkadang menampakan kesedihan.
“Besok ngumpul di skul,jam 7 biar nggak kena macet.juga kita bisa lebih lama di sana,”jawab gue penuh semangat.Ooo,…,,lagi-lagi mata itu bikin gue begitu terlena.

“Oya,Mie!lo jangan lupa bawa bikini,ya!udah lama gue nggak liat cewek pake bikini!”Parah!

                                    ***
Sesampai di anyer,seusai santap siang,gue dan teman-teman mutusin bermain-main di pantai.semuanya terlibat,nggak ada yang nggak ikut nyebur ke air.begitu matahari nyaris ambles di cakrawala,teman-teman beranjak ke conttage-kecuali gue dan Marcell.
“Lo ga masuk,Mie?ntar masuk angin loh,”Ucap marcell sambil duduk di sebelah gue.
“Ntar lagi aja.di Jakarta kan lo nggak bakalan ngeliat sunset yang begini indahnya,”sahut gue sambil terus memandangi laut.Romantik amat,ya…”kalo lo mau ke dalam,nggak apa-apa kok,”Sambung gue sambil memainkan pasir.

Tiba-tiba saja gue udah berada dalam pelukan Marcell.gue kaget,tapi gue bener-bener ngerasain kehangatannya.”Gue nggak akan ninggalin lo sendirian.lo masuk,ya…baju lo udah basah gini!”bisik Marcell sambil agak melonggarkan pelukannya.Entah karena terbawa suasana pantai yang menghanyutkan atau karena terpukau tatapan mata Marcell yang juga sama-sama menghanyutkan,gue nggak sanggup menolak saat bibirnya mendekati muka gue.justru di saat itu,mendadak gue teringat wajah Zia yang selalu berseri-seri kala membicarakan Marcell.gue menarik tubuh dari pelukannya.

“Sorry Mie,bukannya gue mau berbuat yang nggak sopan sama lo.Gue…”
“Udahlah,Mar,nggak usah dibahas,”sergah gue mengigil.”Mie,selama ini gue bener-bener sayang sama lo.Cuma lo yang mau dengerin semua cerita gue.Cuma lo yang selalu bantu ngadepin masalah-masalah gue,Mie.selama ini gue nggak yakin apa harus jujur sama lo.gue takut kehilangan lo kalo lo tau semua ini.tapi gue juga nggak ingin suatu hari nanti ngerasa nyesel karena nggak ngungkapin isi hati gue.Mie,gue ingin selalu melindungi lo.gue ingin jadi cowok lo.lo mau kan?”ucap Marcell sambil menatap gue tajam.

“Mar,apa lo nggak tau kalo Zia itu suka sama lo?gue nggak mau nyakitin perasaan dia.lagi pula Zia itu lebih dari segalanya,Mar,”sahut gue.
Gue mulai merasa mual.”Tapi,Mie,cinta kan nggak bisa di paksain,apa gue salah kalo gue lebih milih lo ketimbang Zia?gue lebih milih lo walau lo nggak lebih pinter,lebih kaya dari Zia.gue sayang sama lo walau lo sering ngeledekin gue dan terkadang galak sama gue.itu namanya cinta yang tulus.Mie.lagi pula siapa yang bilang lo nggak lebih cantik dari Zia?lo punya sesuatu yang nggak dimiliki cewek lain.”

Gue lihat ada yang terluka dalam hati Marcell.gue lihat itu dari tatapan matanya.haruskah gue menyakiti Marcell?tapi gue juga nggak sanggup membuat Zia merasa kecewa!”Tapi,Mar,gimana lo bisa milih gue ketimbang Zia,padahal lo belum satu kalipun ngobrol sama dia?kenapa enggak lo coba dulu?siapa tau aja lo bisa ngerasain chesmystri?siapa tau lo juga bisa curhat-curhatan sama dia….”

                                    ***
TIGA  bulan sejak kejadian di Anyer,gue lihat marcell begitu mesra dengan Zia.tak jarang gue diajak berpergian bareng mereka.Marcell selalu memperlakukan Zia dengan sangat romantis dan istemawa.Cemburukah gue?Mungkin…Mungkin juga gue merasa agak menyesal,tapi mungkin inilah jalan terbaik.

Ah,biarlah segitiga di antara kami tidak sama kaki,tidak pula sama sisi.Mencari,Mendapatkan dan memelihara persahabatan jauh lebih susah ketimbang memburu,menangkap,dan memelihara kekasih.Aku percaya,tuhan akan menjadikan segalanya indah pada waktunya.














Sepeda Cinta “Pangeran Kodok dan Putri keong”

Sepeda Cinta
“Pangeran Kodok dan Putri keong”


(di tengah hiruk pikuk lampu merah perempatan harmoni)
“I’m sitting here in the boring room, it’s just another rainy Sunday afternoon
I’m wasting my time, I got nothing to do,I’m hanging around,I’m waiting for you,But nothing ever happens and I wonder”

Bian yang kala itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek yang memperlihatkan betisna yang gede dan bulu kaki yang lebat cuek aja,terus bernyanyi walaupun beberapa pasang mata pengendara motor di kanan dan kiri kami bingung melihat kelakuan kami berdua.

“Astaga…hari gini masih ada aja yang pacaran naik sepeda BMX…”sayup-sayup terdengar percakapan pengendara motor sebelah kami dengan yang di boncengnya.
“Yok  putri keong sebutan sayang Bian padaku,dah ijo tuh lampunya genjot lagiii…”semangat Bian mengayuh di tanjakan lampu merah sambil melewati beberapa orang polisi yang sibuk bercengkrama.

“Mana ada sepeda di tilang…kalo mau tilang aja ambil nih sepedanya,”guyon Bian.kurasakan angin malam menerpa wajahku yang duduk nangkring di depan ,sambil sesekali mengomentari orang-orang yang kami lewati,bercerita tentang apa saja yang saat itu teresit dalam otakku.Bian tetap dengan sepeda yang di kayuhnya.

(selepas harmoni,melewati pasar baru dan gunung sahari)
“I wonder how,I wonder why…yesterday you told me’bout the blue blue sky
And all that I can see is just another lemon tree,I’m turning my head up and down
I’m turning turning turning turning turning around
And all that I can see is just a yellow lemon tree.and I wonder.wonder…”
“kamu capek ga sih?”(pertanyaan basa basi yang sebenarnya ga’perlu aku tanyain)
“yah cape lah,gile liat nih betis tambah gede.”canda pangeran kodok sebutan syangku pada Bian sambil mendorong sepeda menyebrangi jalan.

“Wakakakaka betisnya tambah seksi,apalagi bulunya bisa buat bikin kemoceng!”balasku sambil mengikutiny berlari kecil.”Ok,hampir sampai di tujuan nih mengantar putri keong yang manja banget!”
“I wonder how,I wonder why,yesterday you told me’bout the blue blue sky
And all that I can see,and all that I can see,and all that I can see,
Is just a yellow lemon tree.”Akhirnya sampaiiii….,”teriakku.
“terima kasih ya pangeran kodokku sayang,putri keong sudah tiba dengan selamat di istana.”
“Hehehehe… kamu sudah selamat putri keong ,aku yang belum nih…perjuangan belum berakhir putriku…”



























Sepeda Cinta
“Pangeran Kodok dan Putri keong”


(di tengah hiruk pikuk lampu merah perempatan harmoni)
“I’m sitting here in the boring room, it’s just another rainy Sunday afternoon
I’m wasting my time, I got nothing to do,I’m hanging around,I’m waiting for you,But nothing ever happens and I wonder”

Bian yang kala itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek yang memperlihatkan betisna yang gede dan bulu kaki yang lebat cuek aja,terus bernyanyi walaupun beberapa pasang mata pengendara motor di kanan dan kiri kami bingung melihat kelakuan kami berdua.

“Astaga…hari gini masih ada aja yang pacaran naik sepeda BMX…”sayup-sayup terdengar percakapan pengendara motor sebelah kami dengan yang di boncengnya.
“Yok  putri keong sebutan sayang Bian padaku,dah ijo tuh lampunya genjot lagiii…”semangat Bian mengayuh di tanjakan lampu merah sambil melewati beberapa orang polisi yang sibuk bercengkrama.

“Mana ada sepeda di tilang…kalo mau tilang aja ambil nih sepedanya,”guyon Bian.kurasakan angin malam menerpa wajahku yang duduk nangkring di depan ,sambil sesekali mengomentari orang-orang yang kami lewati,bercerita tentang apa saja yang saat itu teresit dalam otakku.Bian tetap dengan sepeda yang di kayuhnya.

(selepas harmoni,melewati pasar baru dan gunung sahari)
“I wonder how,I wonder why…yesterday you told me’bout the blue blue sky
And all that I can see is just another lemon tree,I’m turning my head up and down
I’m turning turning turning turning turning around
And all that I can see is just a yellow lemon tree.and I wonder.wonder…”
“kamu capek ga sih?”(pertanyaan basa basi yang sebenarnya ga’perlu aku tanyain)
“yah cape lah,gile liat nih betis tambah gede.”canda pangeran kodok sebutan syangku pada Bian sambil mendorong sepeda menyebrangi jalan.

“Wakakakaka betisnya tambah seksi,apalagi bulunya bisa buat bikin kemoceng!”balasku sambil mengikutiny berlari kecil.”Ok,hampir sampai di tujuan nih mengantar putri keong yang manja banget!”
“I wonder how,I wonder why,yesterday you told me’bout the blue blue sky
And all that I can see,and all that I can see,and all that I can see,
Is just a yellow lemon tree.”Akhirnya sampaiiii….,”teriakku.
“terima kasih ya pangeran kodokku sayang,putri keong sudah tiba dengan selamat di istana.”
“Hehehehe… kamu sudah selamat putri keong ,aku yang belum nih…perjuangan belum berakhir putriku…”



























The love choir

Beberapa Kisah Cintaku

The Love Choir

Aku dan Bian sudah berteman sejak masih kelas dua SMP.saat itu sama sekali tidak ada bayangan bahwa hubungan kami akan berlanjut ke tahap sekarang ini. Yah,namanya juga masih bau kencur.apa sih yang dipikirkan anak umur tiga belas tahun waktu itu?
Aku masih ingat betul bagaimana Bian menembakku.Itu pertama kalinya bagiku.saat itu kami duduk di kelas 3 SMP.kira-kira di akhir Cawu I, di sekolah kami diadakan sebuah pentas seni.tahukan yang namanya pentas seni ramainya minta ampun.dan selama tiga hari,di sekolah kami tidak ada kegiatan belajar mengajar.yang ada cuman “NgeBand”,jingkrak-jingkrak,dan jerit-jerit enggak karuan .bagiku,yang waktu itu benar-benar tipe anak Bibliomania,acara macam begitu sama sekali tidak menarik perhatianku.Aku lebih suka menghabiskan waktu-waktu kosong bersama gerombolanku di dalam kelas sambil membahas soal-soal Ebtanas.
Waktu aku SMP dulu,aku ini bener-bener “ndeso” habis.bayangkan saja,selama 3 tahun,lagu barat yang kutahu Cuma lagu I Have A Dream-nya Westlife.Nggak ada yang kupikirkan selain belajar dan belajar.bagiku,pujian dan penghargaan yang diberikan guru dan teman-teman itu adalah segala-galanya. “Gila,Mia pinter banget!Aljabar kan susah banget!”adalah makanan yang sudah jadi makananku setiap hari.Aku sampai tidak ada waktu untuk ngegebet cowok,pakai lipgloss,atau jalan-jalan ke Mall seperti yang kebanyakan anak cewek di kelasku lakukan setiap hari.sama sekali nggak pernah.
Lalu Bian sendiri?Wah,dia itu cowok yang ramai banget!entah bagaimana caranya,ia tidak pernah bersusah payah mendapat rangking satu untuk bisa menarik perhatian guru dan teman-teman sekelas.yang jelas,kepribadian kami bagai bumi dan matahari.
Kami sekelas saat masih di kelas dua.tapi begitu di kelas tiga,kelas kami berpisah.tapi meski begitu,kelas kami masih bersebelahan.jadi hanya dari dalam kelasku saj,aku sudah bisa mendengar jeritan dan ketawanya yang nggak karuan setiap jam istirahat.kuakui saat masih kelas dua,hubungan kami terbilang akrab.kami sering bekerja dalam satu kelompok tugas.dan Bian sering sekali membantuku saat olah raga(terutama kalau tes lompat tinggi,dimana aku SERING sekali NYANGKUT di papan lompat).dan karena dirinya yang begitu terbuka dan bersahabat,hampir tak ada bagian dari sekolah kami yang tidak kenal dengan namanya.termasuk aku,yang saat itu menganggapnya sebagai teman laki-laki terhebat yang pernah kumiliki.
Lalu semua itu berubah,saat pentas seni (pensi) pada hari kedua.disekolahkuada ektrakulikuler paduan suara.dan paduan suara SMP kami saat itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba di bandung.tapi karena kekurangan dana,mereka melakukan semacam ngamen,dengan tampil di atas panggung pensi dan menyanyikan lagu apapun yang di minta penonton dengan imbalan uang.saat giliran mereka naik panggung,aku sedang duduk di bangku penonton (saat itu aku terseret-seret temanku yang begitu inginnya menonton paduan suara).awalnya paduan suara itu menyanyikan lagu-lagu pop biasa,lalu saat memasuki lagu ketiga,sang direjen itu berhenti dan membalikkan tubuhnya kea rah penonton.
“Bapak-Ibu Guru dan temanku sekalian ,”kata Ria,sang direjen.”sekarang kami akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus di pesan oleh seseorang.lagu ini khusus di persembahkan olehnya untuk seorang perempuan yang dia suka selama hampir setahun!!lautan tepuk tangan dan sorak yang kurasa hampir meledakkan telingaku bergempita dimana-mana.seluruh murid mendadak berkumpul di tengah lapangan .
“Oke,oke!!Tenang,para hadirin,”ujar Ria denga cengar-cengir nggak karuan di atas panggung.”Dia bilang,cewek yang di taksirnya suka banget dengan lagu ini.dan demi lagu ini,dia membayar kami dengan Semua Uang Sakunya Bulan Ini!!!”Ramai lagi,benar-benar kalah sama suara bom kuningan.Kemudian Ria berbalik menjetikkan tangannya kembali.suasana mendadak sepi,seakan ingin mendengarkan apa yang bakal paduan suara itu nyanyikan.lalu kekagetan besar benar-benar menimpaku semenit kemudian .bukan karena suara paduan suara itu menyanyikan lagu I Have A Dream-nya Westlife,bukan karna beberapa murid sekelasku kini melirik dengan mata sebesar bola golf ke arahku,bukan juga karena paduan suara di panggung itu,dan juga seisi sekolah,kini melirik ke rah seorang cowok jabrik yang sedang berjalan ke tengah lapangan.buka itu!!
Tapi karena si cowok jabrik itu kini mendatangani tempat dudukku.Ya,Bian mendatangi AKU!!!!!!!!!!!!! Saat paduan suara itu berhenti bernyanyi,dan seisi sekolah termasuk para guru melirik padaku,dan teman-teman se-geng ku menatap Bian seakan dia makhluk Pluto yang baru mendarat di bumi,Bian menarik tanganku supaya ikut berdiri bersamanya.saat itu,saking kagetnya,di kepalaku sama sekali tidak kepikiran apapun.jadi aku ikuti saja apa yang Bian mau.lalu,dengan sebuah Microphone di tangan kanan nya,Bian menatapku dan berkata,
“Mia,gue suka sama lo.lo mau nggak pacaran sama gue?”semua bocah di tempat itu menjerit hingga kurasa kalau pesawat AS datang dan menjatuhkan rudal di tempat itu sih mereka bodoh amat.semua guru berdiri,mendelik ke arahku,dan ikut bertepuk seakan kami ini sedang bermain topeng monyet.sementara aku?Wah,wajahku sudah nggak karuan,mungkin sudah semerah darah,atau bahkan seungu terong.yang jelas,kjadian itu benar membuatku malu,dan sedikit terharu mungkin.
Tentu saja,aku ini sama sekali nggak ada cakep-cakepnya.malah,kalau boleh jujur nih aku ini kurus banget,tapi kenapa ,Bian,cowok asyik yang meski tampangnya nggak ada coverboynya sama sekali,bisa suka denganku yang begini?sampai harus mengorbankan uang sakunya demiku?
Itu aneh sekali,tapi romantis,tapi dasar diriku.harga diri rangking satuku tetaplah segala-galanya,aku tidak mau pacaran karena akan menggangu nilai-nilaiku.aku tak mau para guru akan mengganggap bahwa aku ini sama dengan anak-anak lain.aku mau mereka tetap mengganggap diriku ini adalah murid teladan dan bisa di banggakan oleh mereka.dan itulah yang berada dalam pikiranku sejenak.jadi,seharusnya aku mengatakan “Tidak”pada Bian.Ya,aku harus menolaknya.lalu ku tatap kedua mata besarnya yang entah kenapa terasa memikat untuk sesaat.kutarik nafasku dalam-dalam dan kuraih Microphone di tangannya dan berkata,
“Tentu saja mau!!kok masih nanya,sih??” lalu seisi sekolah menjerit riuh dengan mengelu-elukan nama kami.Bian mencium pipiku sebagai tanda sayang.aku benar-benar tidak tahu mengapa yang kukatakan justru berbeda dengan apa yang kupikirkan.tapi begitu Bian mengecup pipiku oh…rasanya semua kekecewaan itu segera lenyap seperti angin.saat itulah aku menyadari bahwa saat aku berpikir tadi itulah saat dimana aku sedang berbohong.tapi hatiku ternyata tidak bisa melakukan itu.dan setelah kukatakan penerimaan itulah ,hatiku menjerit begini,
“Ya ampun,ini dia cowok yang Tuhan kirimkan untukku.”Kami berpacaran sejak saat itu.dan hubungan kami telah berlangsung selama 2 tahun Bian sudah membuat hari-hariku berwarna-warni,melebihi warna pelangi.ah..aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi andaikan saat itu aku mengatakan “Tidak” padanya.